KERAPATAN CACING TANAH (KELAS OLIGOCHAETA) DIKAWASAN
HUTAN DESA PALINGKAU KECAMATAN BAKUMPAI KABUPATEN BARITO KUALA SEBAGAI HANDOUT PENGAYAAN SUBKONSEP FILUM
ANNELIDA MATA KULIAH ZOOLOGI INVERTEBRATA
Earthworms (class oligochaeta) in Palingkau Village Forest, District
Bakumpai, Regency Barito Kuala as Handout Enrichment Sub The Concept Phylum
Annelida lecture of Zoology Invertebrates
Novi Winda
Santi1,
Akhmad Naparin2, Mahrudin3
1Pendidikan
Biologi FKIP ULM, Jl. Brigjen Haji
Hasan Basri, Kota Banjarmasin, Indonesia
*Corresponding
author:Noviwindasanti.nws@gmail.com
ABSTRAK
Tumbuhan dan hewan dari berbagai jenis yang hidup secara
alami disuatu tempat membentuk suatu kumpulan yang didalamnya setiap individu
menemukan lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan dalam kumpulan
ini terdapat hubungan timbal balik. Keberadaan cacing tanah yang berperan
sebagai dekomposer dapat dijadikan tolak ukur bagi kesuburan tanah. Hal ini
dapat dilihat dari kerapatan cacing tanah. ) kerapatan adalah ukuran besarnya populasi yang berhubungan dengan satuan
ruang atau waktu, umumnya diteliti dan dinyatakan sebagai cacah individu atau
biomasa persatuan luas atau persatuan isi Kawasan hutan Desa Palingkau
kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala merupakan wilayah hutan yang masih
asri dan masih dianggap oleh masyarakat setempat sebagai hutan lindung.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kerapatan cacing tanah yang
teridentifikasi dikawasan hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten
Barito Kuala serta untuk mengembangkan bahan ajar Handout berdasarkan
penelitian Kerapatan Cacing Tanah di Kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan
Bakumpai Kabupaten Barito Kuala yang valid digunakan secara prosedural. Jenis
cacing tanah yang yang ditemukan antara lain
:Perionyx exavatus, Megascolex sp, Pheretima capensis dan Pontoscolex
corethrurus. Kerapatan tertinggi dimiliki
oleh cacing tanah jenis Megascolex sp
yakni sebesar 93,06%, dan terendah dimiliki oleh pontoscolex corethrurus yakni sebesar 11,11%. Jenis penelitian adalah penelitian pengembangan dengan metode
lapangan berupa metode desktiptif dan hasil penelitian dikembangkan dalam
bentuk handout. Penelitian dan pengembangan menggunakan
beberapa langkah yaitu: 1). Potensi
dan masalah, 2) Pengumpulan data, 3) Desain produk, 4) Validasi desain, 5)
Revisi desain. Uji validasi dilakukan oleh 2 orang dosen pembimbing. Data
dianalisis secara deskriptif dan diukur dengan cara menghitung skor hasil
validitas dari hasil validasi ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan
ajar yang dikembangkan yaitu handout
dinyatakan sangat valid atau sangat layak digunakan sebagai materi pengayaan subkonsep filum Annelida pada mata kuliah Zoologi Invertebrata
dengan skor
rata-rata penilaian validator yakni sebesar 85,67%.
Kata Kunci : Handout, Valid, Jenis, Kerapatan, Cacing
tanah,
1. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan suatu kepulauan yang didalamnya terdapat
berbagai macam jenis flora dan fauna. Keragaman fauna tersebut terkait dengan
kondisi geografis Indonesia yang merupakan wilayah pegunungan dan hutan. Tumbuhan dan
hewan dari berbagai jenis yang hidup secara alami disuatu tempat membentuk
suatu kumpulan yang didalamnya setiap individu menemukan lingkungan yang dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kumpulan ini terdapat hubungan timbal balik
yang menguntungkan dan kelompok itu secara bersama telah menyesuaikan diri dan
menghuni suatu tempat alami yang disebut dengan komunitas (Resosoedarmo,1992).
Menurut Dharmawan (2006) komunitas adalah kumpulan dari berbagai kelompok
individu yang masing-masing kelompok memiliki karakter spesifik, yang
didalamnya terjadi interdependensi yang dinamis pada skala ruang dan waktu dan
saling berinteraksi secara bersamaan.
Komunitas terdiri
dari berbagai jenis populasi, kajian poulasi tersebut menempati suatu ruang dan
waktu tertentu. Menurut Soetjipta (1993) populasi merupakan suatu kumpulan kelompok makhluk yang sama
yang mendiami suatu ruang khusus yang memiliki berbagai karakteristik yang
digambarkan secara statistik. Menurut Odum (1993)
populasi diartikan sebagai suatu kelompok kolektif makhluk yang sama jenis (kelompok-kelompok lain yang individunya
dapat bertukar informasi genetik), yang mendiami
suatu ruang khusus atau tempat tertentu, yang
memiliki berbagai karakteristik.
Cacing tanah dapat
ditemukan didaerah daratan yang berupa daerah pegunungan, sawah, pemukiman, dan
hutan. Cacing tanah biasanya ditemukan hidup diberbagai jenis tanah, baik tanah
bertekstur halus, tanah liat, tanah berdebu, maupun tanah berlempung, namun
jarang ditemui ditanah berpasir. Tempat yang disukai cacing tanah untuk tumbuh dan berkembang biak adalah
tempat yang lembab, mengandung bahan organik, dan tidak terkena sinar matahari
secara langsung (Sapto dan Ulfah, 2011). Menurut Dwiastuti (2007) cacing
tanah bersifat nokturnal atau mempunyai kecenderungan menghindari cahaya
yang berlebihan. Hal ini disebabkan tubuh
cacing tanah terutama bagian ujung depan terdapat banyak sel fotosensitif yang
sangat peka terhadap cahaya, terutama sinar ultra violet matahari.
Kalimantan Selatan merupakan daerah yang memiliki wilayah hutan yang cukup
luas.Secara umum, hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan
lahan yang luas, terdiri dari sumberdaya alam hayati yang umumnya didominasi
oleh pepohonan. Salah satu hutan dataran rendah yang ada di Kalimantan Selatan
terdapat di Kabupaten Barito Kuala. Kebanyakan hutan memiliki keragaman spesies yang tinggi.
Kawasan hutan tersebut salah satunya terdapat di Desa Palingkau Kecamatan
Bakumpai Kabupaten Barito Kuala. Berdasarkan informasi masyarakat bahwa tanah
didaerah ini subur dan indikasinya dapat dilihat dari adanya cacing tanah.
Penelitian
tentang cacing tanah di Kalimantan Selatan pernah dilakukan oleh
Kusmiati (2010) tentang jenis dan kerapatan populasi cacing
tanah (kelas Oligochaeta) pada perkebunan Jeruk di kawasan Agropolitan
Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala. Penelitian
Kariasnyah (2013) tentang Pola Distribusi
dan Kerapatan Cacing Tanah
(kelas oligochaeta) pada Hutan Galam
di Kawasan Desa Tabing
Rimbah Kecamatan
Mandastana Kabupaten
Barito Kuala. Penelitian cacing oleh Yani (2016) tentang Pengembangan Handout Materi Penunjang Konsep Populasi
Mata Kuliah Ekologi Hewan Berbasis Hasil Penelitian Kerapatan Populasi Cacing
Tanah di Kawasan Wisata Air Terjun Rampah Menjangan Loksado. Hutan didaerah
Palingkau selama ini belum terpublikasi secara luas padahal keberagaman
populasi populasi hewan dan tumbuhan juga tersedia di kawasan tersebut. Penelitian mengenai jenis dan kerapatan cacing tanah di Kawasan hutan
Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala belum pernah dilakukan sebelumnya baik oleh mahasiswa maupun orang lain
yang menelitinya. Hal inilah yang menjadi dasar perlunya suatu publikasi
untuk mengenalkan daerah dan wilayah itu
terutama tentang keragaman fauna yang terdapat didaerah tersebut.
Pembelajaran biologi erat kaitannya dengan adanya makhluk
hidup dialam. Apabila hasil penelitian dikembangkan menjadi bahan ajar berupa handout, modul, serta penyusunan berupa
leaflet, dapat menjadi penunjang pembelajaran biologi di sekolah maupun
perguruan tinggi. Bahan ajar
merupakan sumber belajar yang secara sengaja dikembangkan untuk tujuan
pembelajaran. Bahan ajar umumnya dikemas dalam bentuk bahan-bahan cetakan atau
media lain yang diharapkan mampu menimbulkan motivasi dalam diri siswa untuk belajar. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dikawasan yang berbeda yakni di kawasan hutan dengan
mengangkat judul “Kerapatan Cacing Tanah (Kelas Oligochaeta) di Kawasan Hutan
Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala Sebagai Handout Pengayaan
Subkonsep Filum Annelida Mata Kuliah Zoologi Invertebrata”.
2. METODE PENELITIAN
Metode
penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu observasi ke lapangan atau lokasi
penelitian, pengambilan data dilakukan dengan penentuan
titik sampel secara acak menggunakan tekhnik transect dengan
cuplikan pada lokasi penelitian. Menurut Nazir (2014) metode deskriptif adalah suatu
metode yang digunakan dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek,
suatu kondisi atau sistem pemikiran maupun suatu peristiwa dimasa sekarang.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau
lukisan secara sistematis,nyata, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat
serta hubungan antarfenomena yang diteliti.
Pengembangan
bahan ajar berupa handout didasarkan
atas hasil penelitian tentang Kerapatan Cacing Tanah (Kelas
Oligochaeta) di Kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten
Barito Kualadan
disusun menurut Depdiknas (2008) yang telah dimodifikasi. Langkah pengembangan
yang digunakan hanya sampai pendapat tim ahli (expert review) sebelumnya dilakukan evaluasi diri oleh peneliti
untuk memperbaiki penyusunan bahan ajar. Pendapat pakar (Expert review) berasal dari dua orang validator yakni dosen
pembimbing skripsi sekaligus sebagai subjek coba penelitian.
2.1 Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito
Kuala. Waktu
penelitian dilakukan selama 6 bulan dari Agustus sampai Januari 2017, meliputi
masa persiapan (survei lokasi penelitian, penyusunan proposal), pelaksanaan
penelitian, pengumpulan data, analisis data, penyusunan skripsi, dan validitas
bahan ajar. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Oktober 2016. Pengumpulan
data dan validasi ahli dilakukan pada bulan Desember 2016 dan penyusunan
skripsi dilakukan pada bulan November 2016-Januari 2017.
2.2 Populasi Dan Sampel Penelitian
Populasi
dalam penelitian ini adalah semua jenis cacing tanah yang terdapat di Kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala. Sampel penelitian adalah sampel total jenis cacing tanah yang didapatkan pada area pengamatan dikawasan hutan dengan luas area 2.017.114
m2. .
2.3 Alat
dan Bahan Penelitian
a. Alat-alat yang digunakan dalam
penelitian ini adalah:
1) Plot pencuplikan dengan ukuran 30 cm x 30 cm x kedalaman topsoil antara 30
cm.
2) Soil
tester untuk mengukur pH tanah dan kelembaban tanah (%).
3) Termometer
untuk
mengukur suhu (°C).
4) Higrometer,
digunakan untuk mengukur kelembaban udara (%).
5) Lux
meter digunakan untuk mengukur intensitas cahaya (Lux).
6) Lup
dan mikroskop binokuler untuk mengamati jenis cacing yang didapat.
7) Plastik sampel untuk
menampung cacing yang diperoleh.
8) Rol
meter untuk mengukur luas daerah yang akan diteliti.
9) Sekop
dan parang untuk menggali tanah.
10) Penggaris
untuk mengukur kedalaman tanah dan ketebalan serasah.
11) Kamera
untuk mendokumentasikan hewan yang didapatkan.
Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1)
Formalin 1% untuk mengawetkan cacing tanah yang diperoleh.
2)
Kertas label untuk memberi label pada
setiap kantong plastik penampung
2.4 Prosedur Penelitian
Tahap
Persiapan
1)
Melakukan observasi lokasi penelitian di
Kawasan Hutan Desa Palingkau
Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala.
2)
Membuat surat izin penelitian
3)
Mempersiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan dalam penelitian.
Tahap Pelaksanaan
Pengamatan
Morfologi
Dalam pengamatan
morfologi ada dua tahap pengamatan, yaitu;
1)
Tahap pengamatan langsung di lapangan
Mengamati
morfologi secara langsung bentuk cacing, panjang tubuh, diameter tubuh dan warna.
2)
Tahap pengamatan langsung di
laboratorium
Melakukan
pengambilan sampel cacing tanah di lapangan kemudian mengamati
langsung di laboratorium.
Pengamatan
tahap langsung di lapangan dan tahap langsung di laboratorium dilakukan
menggunakan panduan tabel pertelaan pengamatan deskripsi morfologi.
Pengamatan
Jenis Cacing Tanah
1)
Menentukan
lokasi penelitian yang berada di kawasan hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala dengan luas 2.017.114
m2. (lampiran 3)
2)
Membagi area
pengamatan pada hutan menjadi tiga bagian yaitu : Stasiun
I Stasiun I : Dekat dengan pemukiman penduduk berukuran 250 m x270 m,
Stasiun
II: Tengah hutan berukuran 150 m x 500 m, dan
Stasiun
III: Jauh dari pemukiman penduduk dengan
ukuran 250 m x270 m .
3)
Menetapkan transek
sebanyak lima 5 buah pada stasiun I dan III dan 3 transek pada stasiun II.
4)
Menetapkan titik pengamatan pada setiap
transek, yaitu 5 buah titik pada stasiun I dan III dan 10 titik
pada staisun II dengan jarak antar titik sejauh
50 m.
5)
Mengukur ketebalan serasah dengan menggunakan penggaris.
6)
Menetapkan 2 buah cuplikan
pada tiap titik pengamatan dengan ukuran 30 cm x 30 cm dan kedlaman topsoil
tanah 30cm.
7)
Melakukan penggalian dan
pengambilan sampel berupa cacing pada setiap cuplikan.
8)
Melakukan penyaringan pada hasil galian.
9)
Mendokumentasikan sampel dan
semua kegiatan lapangan
10) Melakukan pengukuran parameter faktor
lingkungan pada kawasan penelitian, adapun pengukuran parameter yang dilakukan
meliputi: Pengukuran
suhu tanah, kelembaban tanah , pH tanah tanah , dan
intensitas cahaya dengan menggunakan Lux, serta pengamatan jenis makanan cacing
tanah sebagai salah satu faktor yang berpengaruh
11) Mengidentifikasi jenis dan jumlah cacing tanah
yang ditemukan.
12) Menelusuri ciri-ciri yang dimiliki dengan sumber pustaka untuk menentukan
jenis serta Membandingkan gambar cacing yang ditemukan dengan pustaka-pustaka
penunjang sehingga ditemukan jenis cacing.
13) Melakukan
pengambilan sampel tanah dengan cara mengambil pada kawasan hutan.
14) Menganalisis
unsur N, P, dan K, Ca, Mg dan KTK yang terdapat
pada tanah dan tekstur tanah yang dilakukan di laboratorium tanah Fakultas
Pertanian Banjarbaru.
15) Menganalisis
data yang didapatkan yaitu jenis dan kerapatan.
16) Membuat draft handout yang
divalidasi oleh kedua dosen pembimbing
Penyusunan Draft Handout
Penyusunan handout menggunakan panduan Depdiknas (2008)
dengan tahapan sebagai berikut :
1)
Melakukan analisis kurikulum yaitu dengan meninjau
silabus mata kuliah Zoologi Invertebrata.
2)
Menentukan judul
jenis dan kerapatan cacing tanah di kawasan hutan.
3)
Mengumpulkan
referensi sebagai bahan penulisan
dan hasil penelitian mengenai jenis dan kerapatan cacing tanah di kawasan
hutan. Menyusun kerangka bahan
ajar berupa handout yang dimodifikasi
dari Depdiknas (2008).
4)
Menyusun bahan
ajar dari hasil penelitian.
5)
Melakukan
validasi oleh pembimbing 1 dan pembimbing 2.
6)
Merevisi bahan ajar berupa handout, sesuai dengan
kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan setelah validasi.
Analisis Data
Data yang
diperoleh akan dianalisis dengan mengacu pada pustaka sebagai berikut:
a.
Mengidentifikasi jenis cacing dengan sumber pustaka
antara lain dengan
pustaka Verma, Suin (1997), pustaka yang
relevan dan website.
b.
Menghitung kerapatan dan Keanekaragaman dengan menggunakan rumus
Michael
(1994) untuk rumus kerapatan dan Shannon-Wienner (1963) untuk
rumus Kenakeragaman.
Kerapatan =
3. HASIL DAN
PEMBAHASAN
3.1
Hasil Penelitian
3.1.1 Jenis cacing
tanah yang terdapat dikawasan hutan Desa Palingkau
Jenis cacing tanah di Kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai
Kabupaten Barito Kuala terdiri atas 1 kelas, 1 Ordo, 2 suku dan 4 jenis. Jenis-jenis cacing tanah
yang ditemukan yaitu Megascolex sp, Perionyx exavatus, Pheretima capensis dan
Pontoscolexcorethrurus.
\
3.1.2 Kerapatan Cacing Tanah
Hasil
perhitungan Kerapatan apat dilihat pada Tabel 1. berikut :
Tabel 1.
Kerapatan populasi cacing tanah pada kawasan hutan Desa Palingkau Kecamatan
Bakumpai Kabupaten Barito Kuala
No
|
Jenis
|
K ind/m3)
|
1.
|
Megascolex
sp
|
93,06
|
2.
|
Perionyx
exavatus
|
14,35
|
3.
|
Pheretima
capensis
|
36,11
|
4.
|
Pontoscolex
corethrurus
|
11,11
|
Nilai kerapatan
yang didapatkan untuk kerapatan tertinggi pada kawasan hutan 3 dimiliki oleh Megascolex sp dengan nilai 93,06 ind/m3.
Kerapatan terendah dimiliki oleh Pontoscolex
corethrurus yakni sebesar 11,11 ind/m3.
Berdasarkan hasil
penelitian, jenis yang paling banyak ditemukan adalah Megascolex sp. Hal ini diduga karena cacing tanah jenis ini dapat
beradaptasi dengan baik terhadap perubahan lingkungan yang ada. Selain itu
diduga karena adanya faktor luar yaitu serasah yang dihasilkan oleh tanaman
yang terdapat dikawasan hutan menjadi sumber makanan yang menjadi faktor
pendukung kehidupan cacing tanah. Hanafiah (2003) menyatakan bahwa cacing tanah tipe epigeik memiliki kepekaan terhadap
cahaya yang berhubungan dengan sifatnya dipermukaan tanah sedikit dan tanpa
adanya regenerasi. Selain itu, ketahanan cacing tipe epigeik ini terhadap lingkungan yang
buruk juga tinggi.
Jenis yang paling sedikit ditemukan adalah Pontoscolex corethrurus. Sedikitnya
jumlah cacing tanah jenis ini dikarenakan kurangnya adaptasi terhadap perubahan
lingkungan dikawasan hutan. Cacing jenis ini bertipe endogeik yang yang hidup
didalam tanah dekat permukaan tanah. Cacing ini memakan tanah
dan bahan organik serta akar-akaran tumbuhan yang sudah mati (Sapto &
Ulfah, 2011). Selain itu yang
menyebabkan jumlah Pontoscolex
corethrurus lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah jenis cacing tanah
lainnya diduga karena adanya kompetisi diantara jenis-jenis cacing tanah
tersebut. Pada saat beberapa jenis makhluk hidup menempati habitat yang sama
akan terjadi persaingan yang dapat mengakibatkan pengurangan populasi. Menurut Odum
(1993) suatu populasi dapat bersaing
dalam hal pakan, kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan serta
adanya persaingan untuk memperebutkan habitat.
Banyaknya jumlah cacing
tanah yang didapatkan pada pengambilan data ini diduga karena adanya faktor
luar yaitu serasah-serasah yang dihasilkan oleh pepohonan dikawasan hutan
tersebut serta sisa-sisa organisme lain yang sudah membusuk.
Bahan organik yang terdapat
didalam tanah sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup cacing tanah. Jumlah
produksi serasah juga berpengaruh terhadap populasi cacing tanah
3.1.3
Hasil pengukuran parameter lingkungan dan unsur hara tanah
Tabel 2. Parameter Lingkungan dan unsur hara tanah
di kawasan Hutan Desa Palingkau
No
|
Parameter dan satuannya
|
Kisaran
|
1.
|
Termometer °C
|
26-32
|
2.
|
Lux ( Klux )
|
1,95 – 11,48
|
3.
|
Soil Tester :
-
pH tanah
|
6,2-7
|
|
80-98 %
|
|
4.
|
Unsur Hara Tanah
|
|
a. N
|
16,32- 32,02
|
|
b. P
|
0,32-0,34
|
|
c. K
|
2,48-39,27
|
|
d. KTK
|
34,96-44,06
|
|
e. Mg
|
0,11-0,55
|
|
f. Ca
|
6,38-23,25
|
|
5.
|
Tekstur Tanah
|
|
Pasir
(%)
|
2,66-33,08
|
|
Debu (%)
|
41,67-62,83
|
|
Liat (%)
|
32,25-35,11
|
Hasil
pengukuran terhadap beberapa parameter lingkungan dikawasan hutan Desa
Palingkau diperoleh hasil suhu udara berkisar antara 26-32 °C, intensitas cahaya berkisar antara 1,95-11,48 K.Lux, pH
tanah berkisar antara 5,8-7 dan kelembaban tanah berkisar 80-98%. Pengukuran
unsur hara tanah didapatkan hasil untuk N berkisar 0,22-0,34, P berkisar antara
16,32-32,02, K berkisar antara 2,48-39,27, KTK berkisar antara 34,96-44,06, Mg
berkisar antara 0,11-0,55 dan Ca berkisar antara 6,38-23,25. Pengukuran tekstur
tanah diperoleh untuk pasir berkisar antara 2,66-23,08%, debu diperoleh kisaran
antara 41,67-62,83%, dan liat berkisar
antara 32,25-35,11%.
3.1.4
Validitas bahan ajar
Hasil validasi
bahan ajar oleh kedua validator yakni Dosen pembimbing 1 dan Dosen pembimbing 2
didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 4. Validitas bahan ajar handout
JUMLAH
|
Validator 1
|
Validator 2
|
141
|
140
|
|
Skor Validitas
|
85,97
|
85,36%
|
Skor rata-rata kedua validator
|
85.97%
|
|
Kriteria validitas
|
Sangat valid, atau dapat digunakan
tanpa revisi.
|
|
Berdasarkan
hasil skor validitas aspek kelayakan isi, aspek kelayakan penyajian, dan aspek
kelayakan bahasa oleh validator 1 dan validator 2. Skor Total dari validasi kedua yang dilakukan
oleh
validator 1 diperoleh nilai 85,97%
dan validator ke 2 yaitu 85,36%. Setelah di rata-ratakan skor
rata-rata 85.98% Berdasarkan skor
rata-rata tersebut dapat dinyatakan bahwa bahan ajar handout dengan kriteria sangat valid, atau dapat digunakan tanpa adanya revisi.
3.2 Pembahasan
3.2.1. Jenis Cacing Tanah di Kawsaan Hutan Desa Palingkau
Desa Palingkau
Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito
Kuala
Jenis
cacing tanah yang di teridentifikasi di kawasan hutan Desa Palingkau Kecamatan
Bakumpai Kabupaten Barito Kuala sebanyak 4 jenis antara lain Perionyx exavatus, Megascolex sp, Pheretima capensis dan Pontoscolec corethrurus. Megascolex
sp memiliki ciri-ciri ciri-ciri bentuk tubuh
silinder, warna tubuh bagian dorsal merah keunguan, bagian ventral pucat atau
coklat keputihan, warna ujung anterior coklat keputihan dan ujung posterior
berwarna abu-abu coklat. panjang tubuh 110 – 135 cm, diameter tubuhnya berkisar
antara 3,5 - 4,0 mm,.
Perionyx
exavatus
dideskripsikan menurut Suin (1997)
memiliki ciri-ciri bentuk tubuh silinder, warna tubuh bagian ungu
kehitaman, bagian ventral ungu kemerahan, warna ujung anterior ungu kehitaman
dan ujung posterior berwarna ungu kecoklatan. Panjang tubuh 140 – 200 mm diameter
tubuhnya berkisar antara 5 - 6 mm. Cacing
jenis Pheretima capensis dideskripsikan
menurut Suin (1997) memiliki ciri-ciri panjang tubuhnya 108 mm–198 m, dengan
diameter tubuh berkisar antara 3,3 mm–5,9 mm, warna tubuhnya terbagi menjadi
dua yaitu bagian dorsal berwarna coklat tua dan bagian ventral berwarna coklat
muda sampai keputih-putihan. Jumlah segmen 110–120 segmen klitelum seperti
cincin dan warnanya sedikit lebih hitam dari warna bagian tubuhnya. Selanjutnya adalah cacing jenis Pontoscolex corethrurus, menurut
Suin (1997) dijelaskan bahwa ini memiliki
ciri-ciri panjang tubuhnya 55 mm–105 m, dengan diameter tubuh berkisar antara
3,5 mm–4,0 mm, warna tubuh bagian dorsal coklat kekuningan bagian ventral
abu-abu keputihan, warna ujung anterior kekuningan dan ujung posterior coklat
kekuningan. Jumlah segmen 190–209 segmen, klitelum terletak pada segmen
ke-15/16 – 21/23, lubang kelamin jantan terdapat pada seta ke 20/21.
Hasil penelitian
sebelumnya yaitu Kusmiati (2010) di Pada Perkebunan Jeruk Kawasan Agropolitan
Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala, Kariansyah (2013) di hutan galam di kawasan Desa Tabing
Rimbah Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala, serta Yani (2016) pada
perkebunan kacang tanah di kawasan wisata air terjun Rampah Menjangan Loksado
didapatkan 4 jenis cacing tanah yaitu Pontoscolex
corethrurus, Pheretima capensis,
dan Pheretima javanica, serta Megascolex sp. Berdasarkan ketiga
penelitian tersebut sama-sama didapatkan bahwa jenis yang paling banyak
ditemukan adalah Megascolex sp. Tidak
ditemukannya Perionyx exavatus pada
penelitian sebelumnya diduga karena perbedaan tempat penelitian dalam
pengambilan sampel. Pada penelitian Kusmiati (2010), dan Kariansyah (2013)
penelitian ini mendapatkan cacing jenis Megascolex
sp diduga karena cacing tanah jenis ini mudah bertahan pada perubahan
lingkungan.
3.2.2 Kerapatan
Populasi Cacing dari Kelas Oligochaeta
Hasil penelitian
yang dilakukan di kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten
Barito Kuala, didapatkan empat jenis cacing tanah dari Kelas Oligochaeta dengan
nilai kerapatan yang berbeda-beda. Hasil
perhitungan kerapatan (K) dari pengambilan sampel untuk jenis Megascolex
sp nilai kerapatannya adalah 93,06 ind/m3 ,cacing tanah jenis Perionyx axavatus nilai kerapatannya
adalah 14,35 ind/m3, Nilai
kerapatan cacing tanah jenis Pheretima
capensis 36,11 ind/m3, dan nilai kerapatan cacing tanah jenis Pontoscolex corethrurus adalah 11,11
ind/m3.
Sedikit dan banyaknya populasi cacing
tanah tentunya juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan abiotik. Budiarti
& Palungkun (1993) mengatakan bahwa suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan
cacing tanah adalah 150C – 250C. Suhu yang lebih tinggi
dari 250C masih diangap baik, asalkan terdapat naungan yang cukup
pada suatu kawasan dan kelembaban optimal. Pengukuran
suhu yang terdapat pada kawasan hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai
Kabupaten Barito Kuala berkisar antara 30-32 °C. Berdasarkan data yang diperoleh untuk suhu tanah dapat
diketahui suhu tersebut kurang optimal bagi pertumbuhan cacing tanah.
Cacing tanah memerlukan kelembaban yang
cukup tinggi. Suhu yang optimal dapat membantu perkembangbiakkan cacing tanah.
Apabila suhu udara terlalu kering maka cacing tanah akan masuk kedalam tanah,
berhenti mencari makan dan akhirnya mati. Kelembaban tanah
pada kawasan hutan Desa Palingkau Kecamatan bakumpai Kabupaten Barito Kuala
didapatkan hasil pengukuran berkisar antara 80%-98%. Kelembaban yang optimal untuk kehidupan cacing tanah
adalah berkisar antara 60-90% (Permata, 2006). Berdasarkan
hasil pengukuran diketahui bahwa kelembaban tanah cukup optimal bagi kehidupan
cacing tanah.
Cacing tanah merupakan
hewan yang sangat peka terhadap adanya cahaya. Cacing tanah merupakan hewan
nocturnal. Menurut Permata (2006) cacing tanah tidak memiliki mata namun diseluruh tubuhnya
memiliki sel-sel fotosensitif yang peka terhadap cahaya terutama sinar ultraviolet.
Berdasarkan pengukuran parameter pada kawasan hutan Desa Palingkau didapatkan
kisaran intensitas cahaya yaitu 1,95 – 11,48 K.Lux. Berdasarkan hasil perhitungan
tersebut dapat diketahui bahwa intensitas cahaya pada kawasan itu cukup tinggi.
Hal ini tidak memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan cacing tanah karena
dikawasan hutan ditumbuhi dengan pepohonan serta tumbuhan yang lebat. Masih
terdapat banyak naungan dikawasan tersebut dan tidak menyebabkan kekeringan pada tanahnya sehingga cacing tanah dapat hidup
dengan baik pada kawasan itu.
Keasaman tanah
sangat berpengaruh terhadap populasi dan aktivitas cacing tanah. Pengukuran pH
tanah dikawasan hutan Desa Palingkau didapatkan hasil yaitu dengan kisaran
antara 6,2-7. Umumnya cacing tanah tumbuh baik pada pH sekitar 7,0. Kondisi
tanah yang sedikit asam sampai netral menyebabkan bakteri dalam tubuh cacing
tanah dapat bekerja secara optimal dalam melakukan pembusukkan. (Morario,
2010). Berdasarkan hasil pengukuran apabila dikaitkan dengan pusaka dapat diketahui
bahwa keasaman tanah pada kawasan hutan tersebut memiliki tingkat keasaman
tanah yang cukup optimal bagi kehidupan cacing tanah sehingga dapat menjadi
faktor yang mempengaruhi keberadaan cacing tanah. Cacing tanah sangat
dipengaruhi oleh bahan organik yang terdapat di dalam tanah. Bahan organik
tersebut antara lain dihasilkan oleh kotoran hewan dan pelapukan daun-daunan.
Jenis dan jumlah makanan yang tersedia tidak saja mempengaruhi besarnya
populasi cacing tanah, tetapi juga jenis yang ada, kecepatan tumbuh serta
kesuburan dari cacing tanah. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
suhu dan pH tanah di kawasan Hutan cukup baik bagi pertumbuhan cacing tanah.
Bahan organik
merupakan salah satu hal yang penting bagi kelangsungan hidup cacing tanah.
Hampir semua makhluk hidup yang ditemukan didalam tanah tergantung kepada bahan
organik sebegai sumber energi dan makanannya. Bahan organik berasal dari
serasah atau hewan yang sudah mati. Hasil pengukuran terhadap unsur hara tanah
dikawasan penelitian yang diperoleh dari Laboratorium Fisika, Kimia dan Biologi
Tanah Fakultas Pertanian Banjarbaru didapatkan pengukuran
unsur hara tanah untuk N berkisar 0,22-0,34, P berkisar antara 16,32-32,02, K
berkisar antara 2,48-39,27, KTK berkisar antara 34,96-44,06, Mg berkisar antara
0,11-0,55 dan Ca berkisar antara 6,38-23,25. Pengukuran tekstur tanah diperoleh
untuk pasir berkisar antara 2,66-23,08%, debu diperoleh kisaran antara
41,67-62,83%, dan liat berkisar antara 32,25-35,11%.
Berdasarkan
pustaka, unsur tanah yang optimal untuk N adalah 0,08, unsur P sebesar 2,28,
unsur K sebesar 0,307, unsur KTK sebesar 17,50, Mg sebesar 0,200 dan Ca sebesar
0,307. Berdasarkan pengukuran tersebut dapat dilihat bahwa unsur Nitrogen total
pada kawasan hutan lebih tinggi dibandingkan dengan sumber pustaka. Hal ini
disebabkan oleh metabolit sekunder yang dihasilkan oleh serasah tumbuhan cukup
sulit diuraikan secara sempurna oleh mikroba. Pada unsur Kalium diperoleh hasil
juga tinggi dibandingkan pustaka, hal
ini disebabkan oleh tumbuhan dikawasan hutan Desa Palingkau lebih banyak
menghasilkan Kalium.
Salah
satu dari unsur hara tanah yang dianalisis adalah Kapasitas Tukar Kation (KTK).
Menurut Henry (1991), Kapasitas Tukar kation merupakan kemampuan tanah untuk
menyerap dan mempertukarkan kation didalam tanah. Berdasarkan hasil pengukuran
KTK tanah diperoleh 34,96-44,06. Berdasarkan pengukuran tersebut, KTK tanah
menunjukkan hasil yang cukup tinggi. Besarnya KTK tanah tergantung pada tekstur
tanah, dan kandungan bahan organik. Semakin tinggi bahan organik tanah maka
semakin tinggi pula unsur KTK yang
terkandung didalam tanah.Menurut Dharmono (2000), Kapasitas Tukar Kation (KTK)
tanah juga menentukan tingkat kesuburan tanah, semakin tinggi nilai KTK tanah
maka akan semakin tinggi pula tingkat kesuburan tanah.
Selanjutnya adalah mengenai tekstur tanah.
Berdasarkan hasil uji laboratorium, pada ketiga kawasan didapatkan tekstur
pasir yang paling rendah. Untuk tekstur liat dan debu didaptkan hasil yang
cukup tinggi. Berdasarkan hasil pengukuran dan apabila dikaitkan dengan sumber
pustaka maka dapat dikatakan bahwa pada kawasan hutan Desa Palingkau kondisi
tanahnya optimal bagi kehidupan cacing tanah.
3.2.3 Validasi Handout
Bahan
ajar berbentuk handout yang
dikembangkan dengan judul “Jenis Cacing Tanah di Kawasan Hutan Palingkau”
adalah bahan ajar dari hasil penelitian tentang Kerapatan Cacing Tanah (Kelas Oligochaeta) di Kawasan Hutan Desa Palingkau
Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala yang
bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan pemahaman di luar jam pelajaran
yaitu sebagai bahan pengayaan atau suplemen pada mata kuliah Zoologi
Invertebrata, Handout yang
dikembangkan dilakukan Validasi oleh ahli atau pakar. Bahan ajar Handout yang dikembangkan dalam
penelitian dinilai berdasarkan pedoman penilaian dari BSNP yang meliputi
instrumen penilaian tahap I dan II. Pada penelitian kali ini penilaian hanya
dilakukan pada tahap I. Menurut BSNP
(2007) komponen validasi bahan ajar pada tahap I terdiri atas 3 komponen dengan
masing-masing indikator penilaiannya yaitu:
1)
Aspek kelayakan isi dengan indikator
kesesuaian materi dengan SK dan KD; keakuratan materi; pendukung materi
pembelajaran; kemutakhiran materi.
2)
Aspek kelayakan penyajian dengan
indikator penilaian teknik penyajian; pendukung penyajian; penyajian
pembelajaran; kelengkapan penyajian.
3)
Aspek penilaian bahasa dengan indikator
penilaian Lugas; Komunikatif; Dialogis dan interaktif; Kesesuaian dengan
tingkat perkembangan peserta didik; Keruntutan dan keterpaduan alur pikir;
Penggunaan istilah, simbol, atau ikon.
Pengembangan
handout meliputi beberapa aspek yang
perlu diperhatikan yaitu kedalaman materi yang termasuk dalam penilaian
kelayakan isi. Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials)
secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus
dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan.
Bahan ajar handout Jenis cacing tanah di kawasan
hutan Desa Palingkau yang dibuat berdasarkan dari hasil penelitian “Kerapatan
Cacing Tanah (Kelas Oligochaeta) di Kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan
Bakumpai Kabupaten Barito Kuala telah dilakukan uji validitas terlebih dahulu
sebelum digunakan menjadi materi pengayaan
pembelajaran konsep Filum Annelida. Setelah
diadakan revisi dan didapatkan skor validitas sebesar 85,97 %
maka handout dinyatakan sangat valid
atau sudah layak untuk dipergunakan.
Validasi merupakan proses kegiatan yang
dilakukan untuk mengetahui apakah bahan ajar handout yang dikembangkan valid atau layak digunakan. Menurut
(Sugiyono, 2013) penelitian pengembangan yang digunakan untuk menghasilkan
produk tertentu, perlu menguji keefektifan produk tersebut agar dapat berfungsi
di masyarakat luas. Tujuan dari tahap pengembangan ini adalah untuk
menghasilkan draft perangkat pembelajaran yang telah direvisi
berdasarkan masukan para ahli dan data yang diperoleh dari uji coba (Sholihah et al, 2015).
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian mengenai kerapatan cacing tanah di kawasan hutan Desa
Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
1) Cacing tanah yang ditemukan terdiri dari 2
suku yaitu Suku Megascolecidae dan Glossoscolecidae. Untuk suku Megscolecidae
adalah Perionyx exavatus, Megascolex sp
dan Pheretima capensis. Sedangkan
untuk suku Glossoscolecidae adalah Pontoscolex
corethrurus.
2) Nilai kerapatan yang didapatkan pada
kerapatan tertinggi pada kawasan hutan Desa Palingkau kecamatan Bakumpai
Kabupaten Barito Kuala dimiliki oleh Megascolex
sp dengan nilai kerapatan sebesar 74,44 ind/m2 . Sedangkan nilai
kerapatan terendah pada kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai
Kabupetn Barito Kuala dimiliki oleh cacing jenis Pontoscolex corethrurus dengan nilai kerapatan 8,89 ind/m2.
3)
Bahan ajar handout yang dibuat berdasarkan hasil penelitian tentang kerapatan
cacing tanah di Kawasan Hutan Desa Palingkau kecamatan Bakumpai Kabupaten
Barito Kuala sebagai materi pengayaan subkonsep Filum Annelida mata kuliah
zoologi invertebrata bersifat valid.
DAFTAR
PUSTAKA
Arikunto,
Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik edisi Revisi. Yogyakarta: Penerbit Rineka Cipta
Akbar, Instrumen Validasi Bahan Ajar,
2013. Jakarta
Alex, M.
2016. Budidaya Berbagai Macam Cacing.
Pustaka Baru Press. Yogyakarta
Asasi, Ahmad Furqon. 2009. Analisis Kelayakan Buku Ajar Sains Untuk SMP Kelas VII Ditinjau Dari
Aspek Keterlibatan Siswa. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga,
Yogyakarta.
Astrini, Linda. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Menulis Petunjuk Bagi Pembelajaran dengan
Menggunakan Pendekatan Kontekstual pada Siswa SMP. Universitas Negeri
Semarang, Semarang.
Budiarti, Asiani & Rony Palungkun. 1993. Cacing Tanah. Penebar Swadaya, Jakarta.
Dharmono. 2000. Dampak Penanaman Galam Terhadap
Struktur, Komposisi, Vegetasi Dan Unsur Mineral Pada Lahan Gambut (Studi Kasus Terhadap 4 Lahan
Gambut Di Kalimantan Selatan).
Thesis Pascasarjana. Institut Teknik Bandung. Tidak dipublikasikan.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar.
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan menengah.
Dharmawan, Agus. 2006. Ekologi Hewan. Jurusan Biologi Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNM: Malang.
Dwiastuti, Sri, Sajidan, Suntoro &
Setyono.2007. Pengaruh Kepadatan Ccaing
Tanah Terhadap Emisi C02 mesocosm Pada Konversi lahan Hutan ke
Pertanian.
Fachrul, Melati Ferianita. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Bumi
Aksara, Jakarta.
Fauziah, Uji. 2015. Desain Penelitian
Pengembangan Bahan Ajar IPA Terpadu TemaCahaya dan Warna untuk Pembelajaran IPA
SMP.
Bandung. Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan
Pembelajaran Sains 2015.
Firmansyah.et al. 2014. Karakterisasi Populasi dan Potensi Cacing Tanah Untuk
Pakan Ternak dari Tepi Sungai Kahayan dan Barito. BPTP Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Hanafiah, Kemas Ali. Anas, Iswandi. Napoleon, A.
Ghoffar, Nuni. 2005. Biologi Tanah
Ekologi dan Makrobiologi Tanah. Rajawali Press, Jakarta.
Henry, 1991. Dasar-Dasar
Ilmu Tanah. Bumi Aksara, Jakarta
Jasin, Maskoeri. 1984. Sistematik Hewan Invertebrata dan Vertebrata.
Sinar Wijaya, Surabaya
Kariansyah, bagus Dwi. 2013. Pola Distribusi dan Kerapatan Cacing dari Kelas Oligochaeta pada Hutan
Galam di Kawasan Desa Tabing Rimbah Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala.
Skripsi Sarjana. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Tidak dipublikasikan.
Kusmiati, Evi. 2010. Jenis Dan Kerapatan Populasi Cacing
Tanah (Kelas Oligochaeta) Pada Perkebunan Jeruk Di Kawasan Agropolitan
Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala. Skripsi Sarjana.
Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Tidak dipublikasikan.
Muller 2005. Dasar Umum Ilmu
Kehutanan. Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Bagian Timur.
Michael, P. 1994. Metode Ekologi
Untuk Penyelidikan Lapangan dan
Laboratorium (Terjemahan Yanti R. Koestoer). Usaha Nasional, Jakarta
Morario. 2010. Komposisi dan
Distribusi Ccaing Tanah di Kawasan Perkebunan Kelapa Sawit PT. MOEIS dan
Perkebunan Rakyat Desa Simodong Kabupaten Batu Bara. Universitas Sumatera
Utara.
Nazir,
Moh. 2014. Metode Penelitian.
Penerbit Ghalia Indonesia. Bogor
Nilawati Syami, Dahelmi, dan
Jabang Nurdin. 2014. Jenis-jenis Cacing Tanah
(Oligochaeta) yang Terdapat di Kawasan Cagar Alam Lembah Anai Sumatera Barat. Fakultas MIPA, Universitas
Negeri Andalas.
Nilawati, Retno. 2014
Pengembangan Handout Pembelajaran Tematik untuk Siswa Sekolah Dasar Kelas
III.Salatiga FKIP UKSW Salatiga
Nilawati, Retno. 2014 Pengembangan
Handout Pembelajaran Tematik untuk Siswa Sekolah Dasar Kelas III.Salatiga FKIP
UKSW Salatiga.
Nurhasanah,
Siti. 2012. Pengembangan Bahan Ajar
Membaca dan Menulis Teks Percakapan untuk Siswa Kelas V SD. Universitas
Negeri Malang, Malang.
Odum, p. Eugene. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Edisi ketiga (penerjemah Thahyono Samingan).
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Permata, Dian. 2006. Reproduksi cacing tanah (eisenia foetida) dengan Memanfaatkan
daun dan pelepah kimpul (xanthosoma
sagittifolium) pada media Kotoran sapi perah. Program
Studi Teknologi Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian.
Bogor.
Rahmawaty.2007.
Hutan, fungsi dan perannanya bagi
masyarakat. Fakultas Pertanian Program ilmu kehutanan. Universitas Sumatera
Utara.
Resosoedarmo, Kartawinata,
Kuswata dan Soegiarta Apriliani.1992. Penganta
Ekologi. Penerbit PT Remaja Rosdakarya.
Bandung
Rusyana, Adun.
2011. Zoologi Invertebrata. Alfabeta.
Bandung
Sapto, Ciptanto dan
Paramita, Ulfah. 2011. Mendulang emas
hitam melalui budi
daya
cacing tanah. Lily
Publisher.
Yogyakarta.
Saputro, Edi et al. 2014. Pengembangan Bahan Ajar Menulis Berbasis
Nilai-Nilai Kearifan Lokal. Universitas Lampung, Lampung.
Sholihah Wardatus,. Susanto & T. Sugiarto. 2015.
Pengembangan Bahan Ajar (Buku Siswa)
Matematika Untuk Siswa Tunarungu Berdasarkan Standar Isi Dan Karakteristik
Siswa Tunarungu Pada Sub Pokok Bahasan Menentukan Hubungan Dua Garis, Besar
Sudut, Dan Jenis Sudut Kelas Vii Smplb/B Taman Pendidikan Dan Asuhan (Tpa)
Jember Tahun Ajaran 2012/2013. Jember. Prodi Pendidikan Matematika
Jurusan Pendidikan MIPA FKIP UNEJ
Soetjipta.1993. Dasar-dasar Ekologi hewan. Fakultas Biologi. Univerisitas Gadjah
Mada. Yogyakarta.
Subowo.2014. Pemberdayaan
Organisme Tanah untuk Pertanian Ramah Lingkungan. Jakarta.
Suin, Nurdin Muhammad. 1997. Ekologi Hewan Tanah. PT Bumi Aksara, Jakarta
Suratsih. 2010. Pengembangan Modul
Pembelajaran Biologi Berbasis Potensi Lokal Dalam
Kerangka Implementasi KTSP SMA di Yogyakarta. Yogyakarta. FMIPA Universitas Negeri
Yogyakarta.
Suswina, M. 2011. Hasil
Validitas Pengembangan Bahan Ajar Bergambar
Disertai Peta Konsep Untuk Pembelajaran Biologi SMA Semester 1 Kelas XI. Program Studi Pendidikan Biologi STKIP
PGRI
Sumatera Barat. SUMBAR.
Sutrisno
Lis, Sulaeman Rudianda, Sribudiani Evi. 2006. Utilization of Wood Waste Mahang (Macaranga sp.) From Sawmill Industry
For Making Wood Vinegar. Riau
Departement of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Riau.
Verma,
P.S. 2002. A Manual of Practical Zoology
Invertebrates. S. CHAND & Company LTD. New Delhi.
Wiyono, Ketang & Danawan, Agus. 2009. Research & Development dalam Pendidikan
IPA.Universitas Pendidikan Indonesia,Indonesia.
Yani.2016. Pengembangan
Handout Materi Penunjang Konsep Populasi Mata Kuliah Ekologi Hewan Berbasi
Penelitian Kerapatan Populasi Cacing Tanah Pada Perkebunan Kacang Tanah di
Kawsaan Wisata Air Terjun Rampah menjangan Loksado. Skripsi Sarjana.
Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Tidak dipublikasikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar