Rabu, 23 Agustus 2017

KERAPATAN CACING TANAH (KELAS OLIGOCHAETA)



KERAPATAN CACING TANAH (KELAS OLIGOCHAETA) DIKAWASAN HUTAN DESA PALINGKAU KECAMATAN BAKUMPAI KABUPATEN BARITO KUALA SEBAGAI HANDOUT PENGAYAAN SUBKONSEP FILUM ANNELIDA MATA KULIAH ZOOLOGI INVERTEBRATA

Earthworms (class oligochaeta) in Palingkau Village Forest, District Bakumpai, Regency Barito Kuala as Handout Enrichment Sub The Concept Phylum Annelida lecture of Zoology Invertebrates

Novi Winda Santi1, Akhmad Naparin2, Mahrudin3
1Pendidikan Biologi FKIP ULM, Jl. Brigjen Haji Hasan Basri, Kota Banjarmasin, Indonesia
                                                  *Corresponding author:Noviwindasanti.nws@gmail.com                              



ABSTRAK

Tumbuhan dan hewan dari b­erbagai jenis yang hidup secara alami disuatu tempat membentuk suatu kumpulan yang didalamnya setiap individu menemukan lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan dalam kumpulan ini terdapat hubungan timbal balik. Keberadaan cacing tanah yang berperan sebagai dekomposer dapat dijadikan tolak ukur bagi kesuburan tanah. Hal ini dapat dilihat dari kerapatan cacing tanah. ) kerapatan adalah ukuran besarnya populasi yang berhubungan dengan satuan ruang atau waktu, umumnya diteliti dan dinyatakan sebagai cacah individu atau biomasa persatuan luas atau persatuan isi Kawasan hutan Desa Palingkau kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala merupakan wilayah hutan yang masih asri dan masih dianggap oleh masyarakat setempat sebagai hutan lindung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kerapatan cacing tanah yang teridentifikasi dikawasan hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala serta untuk mengembangkan bahan ajar  Handout berdasarkan penelitian Kerapatan Cacing Tanah di Kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala yang valid digunakan secara prosedural. Jenis cacing tanah yang yang ditemukan antara lain :Perionyx exavatus, Megascolex sp, Pheretima capensis dan Pontoscolex corethrurus. Kerapatan tertinggi dimiliki oleh cacing tanah jenis Megascolex sp yakni sebesar 93,06%, dan terendah dimiliki oleh pontoscolex corethrurus yakni sebesar 11,11%. Jenis penelitian adalah penelitian pengembangan dengan metode lapangan berupa metode desktiptif dan hasil penelitian dikembangkan dalam bentuk handout. Penelitian dan pengembangan menggunakan beberapa langkah  yaitu:  1). Potensi dan masalah, 2) Pengumpulan data, 3) Desain produk, 4) Validasi desain, 5) Revisi desain. Uji validasi dilakukan oleh 2 orang dosen pembimbing. Data dianalisis secara deskriptif dan diukur dengan cara menghitung skor hasil validitas dari hasil validasi ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan yaitu handout dinyatakan sangat valid atau sangat layak digunakan sebagai materi pengayaan subkonsep filum Annelida pada mata kuliah Zoologi Invertebrata dengan skor rata-rata penilaian validator yakni sebesar 85,67%.

Kata Kunci : Handout, Valid, Jenis, Kerapatan, Cacing tanah,




1. PENDAHULUAN




Indonesia merupakan suatu kepulauan yang didalamnya terdapat berbagai macam jenis flora dan fauna. Keragaman fauna tersebut terkait dengan kondisi geografis Indonesia yang merupakan wilayah pegunungan dan hutan. Tumbuhan dan hewan dari b­erbagai jenis yang hidup secara alami disuatu tempat membentuk suatu kumpulan yang didalamnya setiap individu menemukan lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kumpulan ini terdapat hubungan timbal balik yang menguntungkan dan kelompok itu secara bersama telah menyesuaikan diri dan menghuni suatu tempat alami yang disebut dengan komunitas (Resosoedarmo,1992). Menurut Dharmawan (2006) komunitas adalah kumpulan dari berbagai kelompok individu yang masing-masing kelompok memiliki karakter spesifik, yang didalamnya terjadi interdependensi yang dinamis pada skala ruang dan waktu dan saling berinteraksi secara bersamaan.
Komunitas terdiri dari berbagai jenis populasi, kajian poulasi tersebut menempati suatu ruang dan waktu tertentu. Menurut Soetjipta (1993) populasi merupakan  suatu kumpulan kelompok makhluk yang sama yang mendiami suatu ruang khusus yang memiliki berbagai karakteristik yang digambarkan secara statistik. Menurut Odum (1993) populasi diartikan sebagai suatu kelompok kolektif makhluk yang sama jenis (kelompok-kelompok lain yang individunya dapat bertukar informasi genetik), yang mendiami suatu ruang khusus atau tempat tertentu, yang memiliki berbagai karakteristik.
Cacing tanah dapat ditemukan didaerah daratan yang berupa daerah pegunungan, sawah, pemukiman, dan hutan. Cacing tanah biasanya ditemukan hidup diberbagai jenis tanah, baik tanah bertekstur halus, tanah liat, tanah berdebu, maupun tanah berlempung, namun jarang ditemui ditanah berpasir. Tempat yang disukai cacing tanah  untuk tumbuh dan berkembang biak adalah tempat yang lembab, mengandung bahan organik, dan tidak terkena sinar matahari secara langsung (Sapto dan Ulfah, 2011). Menurut Dwiastuti (2007) cacing tanah bersifat nokturnal atau mempunyai kecenderungan menghindari cahaya yang berlebihan. Hal ini disebabkan tubuh cacing tanah terutama bagian ujung depan terdapat banyak sel fotosensitif yang sangat peka terhadap cahaya, terutama sinar ultra violet matahari.
Kalimantan Selatan merupakan daerah yang memiliki wilayah hutan yang cukup luas.Secara umum, hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan yang luas, terdiri dari sumberdaya alam hayati yang umumnya didominasi oleh pepohonan. Salah satu hutan dataran rendah yang ada di Kalimantan Selatan terdapat di Kabupaten Barito Kuala. Kebanyakan hutan  memiliki keragaman spesies yang tinggi. Kawasan hutan tersebut salah satunya terdapat di Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala. Berdasarkan informasi masyarakat bahwa tanah didaerah ini subur dan indikasinya dapat dilihat dari adanya cacing tanah.
Penelitian tentang cacing tanah di Kalimantan Selatan pernah dilakukan oleh Kusmiati (2010) tentang jenis dan kerapatan populasi cacing tanah (kelas Oligochaeta) pada perkebunan Jeruk di kawasan Agropolitan Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala. Penelitian Kariasnyah (2013) tentang Pola Distribusi dan Kerapatan Cacing Tanah (kelas oligochaeta) pada Hutan Galam di Kawasan Desa Tabing Rimbah Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala. Penelitian cacing oleh Yani (2016) tentang Pengembangan Handout Materi Penunjang Konsep Populasi Mata Kuliah Ekologi Hewan Berbasis Hasil Penelitian Kerapatan Populasi Cacing Tanah di Kawasan Wisata Air Terjun Rampah Menjangan Loksado. Hutan didaerah Palingkau selama ini belum terpublikasi secara luas padahal keberagaman populasi populasi hewan dan tumbuhan juga tersedia di kawasan tersebut. Penelitian mengenai jenis dan kerapatan cacing tanah di Kawasan hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala belum pernah dilakukan sebelumnya baik oleh mahasiswa maupun orang lain yang menelitinya. Hal inilah yang menjadi dasar perlunya suatu publikasi untuk mengenalkan daerah dan wilayah itu  terutama tentang keragaman fauna yang terdapat didaerah tersebut.
Pembelajaran biologi erat kaitannya dengan adanya makhluk hidup dialam. Apabila hasil penelitian dikembangkan menjadi bahan ajar berupa handout, modul, serta penyusunan berupa leaflet, dapat menjadi penunjang pembelajaran biologi di sekolah maupun perguruan tinggi. Bahan ajar merupakan sumber belajar yang secara sengaja dikembangkan untuk tujuan pembelajaran. Bahan ajar umumnya dikemas dalam bentuk bahan-bahan cetakan atau media lain yang diharapkan mampu menimbulkan motivasi dalam diri siswa untuk belajar. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dikawasan yang berbeda yakni di kawasan hutan dengan mengangkat judul “Kerapatan Cacing Tanah (Kelas Oligochaeta) di Kawasan  Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala Sebagai Handout Pengayaan Subkonsep Filum Annelida Mata Kuliah Zoologi Invertebrata”.
2. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu observasi ke lapangan atau lokasi penelitian, pengambilan data dilakukan dengan penentuan titik sampel secara acak menggunakan tekhnik transect dengan cuplikan pada lokasi penelitian.  Menurut Nazir (2014) metode deskriptif adalah suatu metode yang digunakan dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi atau sistem pemikiran maupun suatu peristiwa dimasa sekarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis,nyata, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antarfenomena yang diteliti.
Pengembangan bahan ajar berupa handout didasarkan atas hasil penelitian tentang Kerapatan Cacing Tanah (Kelas Oligochaeta) di Kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kualadan disusun menurut Depdiknas (2008) yang telah dimodifikasi. Langkah pengembangan yang digunakan hanya sampai pendapat tim ahli (expert review) sebelumnya dilakukan evaluasi diri oleh peneliti untuk memperbaiki penyusunan bahan ajar. Pendapat pakar (Expert review) berasal dari dua orang validator yakni dosen pembimbing skripsi sekaligus sebagai subjek coba penelitian.
2.1 Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala. Waktu penelitian dilakukan selama 6 bulan dari Agustus sampai Januari 2017, meliputi masa persiapan (survei lokasi penelitian, penyusunan proposal), pelaksanaan penelitian, pengumpulan data, analisis data, penyusunan skripsi, dan validitas bahan ajar. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Oktober 2016. Pengumpulan data dan validasi ahli dilakukan pada bulan Desember 2016 dan penyusunan skripsi dilakukan pada bulan November 2016-Januari 2017.
2.2 Populasi Dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua jenis cacing tanah  yang terdapat di Kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala. Sampel penelitian adalah sampel total jenis cacing tanah yang didapatkan pada area pengamatan dikawasan hutan dengan luas area 2.017.114 m2. .
2.3 Alat dan Bahan Penelitian
      a. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1)       Plot pencuplikan dengan ukuran 30 cm x 30 cm x kedalaman topsoil antara 30 cm. 
2)       Soil tester untuk mengukur pH tanah dan kelembaban tanah (%).
3)       Termometer untuk mengukur suhu (°C).
4)       Higrometer, digunakan untuk mengukur kelembaban udara (%).
5)       Lux meter digunakan untuk mengukur intensitas cahaya (Lux).
6)       Lup dan mikroskop binokuler untuk mengamati jenis cacing yang didapat.
7)       Plastik sampel  untuk menampung cacing yang diperoleh.
8)       Rol meter untuk mengukur luas daerah yang akan diteliti.
9)       Sekop dan parang untuk menggali tanah.
10)    Penggaris untuk mengukur kedalaman tanah dan ketebalan serasah.
11)    Kamera untuk mendokumentasikan hewan yang didapatkan.
Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1)       Formalin 1% untuk mengawetkan cacing tanah yang diperoleh.
2)       Kertas label untuk memberi label pada setiap kantong plastik penampung

2.4 Prosedur Penelitian
     Tahap Persiapan
1)         Melakukan observasi lokasi penelitian di Kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala.
2)         Membuat surat izin penelitian
3)         Mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian.

Tahap Pelaksanaan
     Pengamatan Morfologi
Dalam pengamatan morfologi ada dua tahap pengamatan, yaitu;
1)         Tahap pengamatan langsung di lapangan
Mengamati morfologi secara langsung bentuk cacing, panjang tubuh, diameter tubuh dan warna.
2)         Tahap pengamatan langsung di laboratorium
Melakukan pengambilan sampel cacing tanah di lapangan kemudian mengamati langsung di laboratorium.
Pengamatan tahap langsung di lapangan dan tahap langsung di laboratorium dilakukan menggunakan panduan tabel pertelaan pengamatan deskripsi morfologi.

Pengamatan Jenis Cacing Tanah
1)         Menentukan lokasi penelitian yang berada di kawasan hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala dengan luas 2.017.114 m2. (lampiran 3)
2)         Membagi area pengamatan pada hutan menjadi tiga bagian yaitu : Stasiun I Stasiun I : Dekat dengan pemukiman penduduk berukuran 250 m x270 m,
Stasiun II: Tengah hutan berukuran 150 m x 500 m, dan
Stasiun III: Jauh dari pemukiman penduduk dengan ukuran 250 m x270 m .
3)         Menetapkan transek sebanyak lima 5 buah pada stasiun I dan III dan 3 transek pada stasiun II.
4)         Menetapkan titik pengamatan pada setiap transek, yaitu 5 buah titik pada stasiun I dan III dan 10 titik pada staisun II dengan jarak antar titik sejauh 50 m.
5)         Mengukur ketebalan serasah dengan menggunakan penggaris.
6)         Menetapkan 2 buah cuplikan pada tiap titik pengamatan dengan ukuran 30 cm x 30 cm dan kedlaman topsoil tanah 30cm.
7)         Melakukan penggalian dan pengambilan sampel berupa cacing pada setiap cuplikan.
8)         Melakukan penyaringan pada hasil galian.
9)         Mendokumentasikan sampel dan semua kegiatan lapangan
10)      Melakukan pengukuran parameter faktor lingkungan pada kawasan penelitian, adapun pengukuran parameter yang dilakukan meliputi: Pengukuran suhu tanah, kelembaban tanah , pH tanah tanah , dan intensitas cahaya dengan menggunakan Lux, serta pengamatan jenis makanan cacing tanah sebagai salah satu faktor yang berpengaruh
11)      Mengidentifikasi jenis dan jumlah cacing tanah yang ditemukan.
12)      Menelusuri ciri-ciri yang dimiliki dengan sumber pustaka untuk menentukan jenis serta Membandingkan gambar cacing yang ditemukan dengan pustaka-pustaka penunjang sehingga ditemukan jenis cacing.
13)      Melakukan pengambilan sampel tanah dengan cara mengambil pada kawasan hutan.
14)      Menganalisis unsur N, P, dan K, Ca, Mg dan KTK yang terdapat pada tanah dan tekstur tanah yang dilakukan di laboratorium tanah Fakultas Pertanian Banjarbaru.
15)      Menganalisis data yang didapatkan yaitu jenis dan kerapatan.
16)      Membuat draft handout yang divalidasi oleh kedua dosen pembimbing

Penyusunan Draft Handout
Penyusunan handout menggunakan panduan Depdiknas (2008) dengan tahapan sebagai berikut :
1)         Melakukan analisis kurikulum yaitu dengan meninjau silabus mata kuliah Zoologi Invertebrata.
2)         Menentukan judul jenis dan kerapatan cacing tanah di kawasan hutan.
3)         Mengumpulkan referensi sebagai bahan penulisan dan hasil penelitian mengenai jenis dan kerapatan cacing tanah di kawasan hutan.  Menyusun kerangka bahan ajar berupa handout yang dimodifikasi dari Depdiknas (2008).
4)         Menyusun bahan ajar dari hasil penelitian.
5)         Melakukan validasi oleh pembimbing 1 dan pembimbing 2.
6)         Merevisi bahan ajar berupa handout, sesuai dengan kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan setelah validasi.

Analisis Data
                   Data yang diperoleh akan dianalisis dengan mengacu pada pustaka sebagai berikut:
a.   Mengidentifikasi jenis cacing dengan sumber pustaka antara lain dengan
pustaka Verma, Suin (1997), pustaka yang relevan dan website.
b.   Menghitung kerapatan dan Keanekaragaman dengan menggunakan rumus
Michael (1994) untuk rumus kerapatan dan Shannon-Wienner (1963) untuk rumus Kenakeragaman.
Kerapatan =


3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Penelitian
3.1.1 Jenis cacing tanah yang terdapat dikawasan hutan Desa Palingkau
                   Jenis cacing tanah di Kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala terdiri atas 1 kelas, 1 Ordo,  2 suku dan 4 jenis. Jenis-jenis cacing tanah yang ditemukan yaitu Megascolex sp, Perionyx exavatus, Pheretima capensis dan Pontoscolexcorethrurus.
\

3.1.2 Kerapatan Cacing Tanah
Hasil perhitungan Kerapatan apat dilihat pada Tabel  1. berikut :
Tabel 1. Kerapatan populasi cacing tanah pada kawasan hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala
No

Jenis
  K ind/m3)
1.
Megascolex sp
93,06
2.
Perionyx exavatus
14,35
3.
Pheretima capensis
36,11
4.
Pontoscolex corethrurus
11,11

                   Nilai kerapatan yang didapatkan untuk kerapatan tertinggi pada kawasan hutan 3 dimiliki oleh Megascolex sp dengan nilai 93,06 ind/m3. Kerapatan terendah dimiliki oleh Pontoscolex corethrurus yakni sebesar 11,11 ind/m3.
                   Berdasarkan hasil penelitian, jenis yang paling banyak ditemukan adalah Megascolex sp. Hal ini diduga karena cacing tanah jenis ini dapat beradaptasi dengan baik terhadap perubahan lingkungan yang ada. Selain itu diduga karena adanya faktor luar yaitu serasah yang dihasilkan oleh tanaman yang terdapat dikawasan hutan menjadi sumber makanan yang menjadi faktor pendukung kehidupan cacing tanah. Hanafiah (2003) menyatakan bahwa cacing tanah tipe epigeik memiliki kepekaan terhadap cahaya yang berhubungan dengan sifatnya dipermukaan tanah sedikit dan tanpa adanya regenerasi. Selain itu, ketahanan cacing tipe epigeik ini terhadap lingkungan yang buruk juga tinggi.
                Jenis yang paling sedikit ditemukan adalah Pontoscolex corethrurus. Sedikitnya jumlah cacing tanah jenis ini dikarenakan kurangnya adaptasi terhadap perubahan lingkungan dikawasan hutan. Cacing jenis ini bertipe endogeik yang yang hidup didalam tanah dekat permukaan tanah. Cacing ini memakan tanah dan bahan organik serta akar-akaran tumbuhan yang sudah mati (Sapto & Ulfah, 2011). Selain itu yang menyebabkan jumlah Pontoscolex corethrurus lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah jenis cacing tanah lainnya diduga karena adanya kompetisi diantara jenis-jenis cacing tanah tersebut. Pada saat beberapa jenis makhluk hidup menempati habitat yang sama akan terjadi persaingan yang dapat mengakibatkan pengurangan populasi. Menurut Odum (1993) suatu populasi dapat bersaing dalam hal pakan, kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan serta adanya persaingan untuk memperebutkan habitat.
                Banyaknya jumlah cacing tanah yang didapatkan pada pengambilan data ini diduga karena adanya faktor luar yaitu serasah-serasah yang dihasilkan oleh pepohonan dikawasan hutan tersebut serta sisa-sisa organisme lain yang sudah membusuk.
Bahan organik yang terdapat didalam tanah sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup cacing tanah. Jumlah produksi serasah juga berpengaruh terhadap populasi cacing tanah

3.1.3 Hasil pengukuran parameter lingkungan dan unsur hara tanah
Tabel 2. Parameter Lingkungan dan unsur hara tanah di kawasan Hutan Desa Palingkau
   No

Parameter dan satuannya

Kisaran
1.
Termometer   °C

26-32

2.

Lux ( Klux )
1,95 – 11,48
3.
Soil Tester :
-          pH tanah
6,2-7
- Kelembaban tanah
80-98 %
4.
Unsur Hara Tanah


a. N
16,32- 32,02

b. P
0,32-0,34
c. K
2,48-39,27
d. KTK
34,96-44,06
e. Mg
0,11-0,55
f. Ca
6,38-23,25
5.
Tekstur Tanah

Pasir  (%)
2,66-33,08
Debu (%)
41,67-62,83
Liat   (%)
32,25-35,11

Hasil pengukuran terhadap beberapa parameter lingkungan dikawasan hutan Desa Palingkau diperoleh hasil suhu udara berkisar antara 26-32 °C, intensitas cahaya berkisar antara 1,95-11,48 K.Lux, pH tanah berkisar antara 5,8-7 dan kelembaban tanah berkisar 80-98%. Pengukuran unsur hara tanah didapatkan hasil untuk N berkisar 0,22-0,34, P berkisar antara 16,32-32,02, K berkisar antara 2,48-39,27, KTK berkisar antara 34,96-44,06, Mg berkisar antara 0,11-0,55 dan Ca berkisar antara 6,38-23,25. Pengukuran tekstur tanah diperoleh untuk pasir berkisar antara 2,66-23,08%, debu diperoleh kisaran antara 41,67-62,83%, dan  liat berkisar antara 32,25-35,11%.   

3.1.4 Validitas bahan ajar
Hasil validasi bahan ajar oleh kedua validator yakni Dosen pembimbing 1 dan Dosen pembimbing 2 didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 4. Validitas bahan ajar handout

JUMLAH
Validator 1
Validator 2
141
140
Skor Validitas
85,97
85,36%
Skor rata-rata kedua validator
85.97%
Kriteria validitas
Sangat valid, atau dapat digunakan tanpa revisi.

                Berdasarkan hasil skor validitas aspek kelayakan isi, aspek kelayakan penyajian, dan aspek kelayakan bahasa oleh validator 1 dan validator 2. Skor Total dari validasi kedua yang dilakukan oleh validator 1 diperoleh nilai 85,97% dan validator ke 2 yaitu 85,36%. Setelah di rata-ratakan skor rata-rata 85.98% Berdasarkan skor  rata-rata tersebut dapat dinyatakan bahwa bahan ajar handout dengan kriteria sangat valid, atau dapat digunakan tanpa adanya revisi.
3.2 Pembahasan

3.2.1. Jenis Cacing Tanah di Kawsaan Hutan Desa Palingkau Desa Palingkau Kecamatan  Bakumpai Kabupaten Barito Kuala

                   Jenis cacing tanah yang di teridentifikasi di kawasan hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala sebanyak 4 jenis antara lain Perionyx exavatus, Megascolex sp, Pheretima capensis dan Pontoscolec corethrurus. Megascolex sp  memiliki ciri-ciri ciri-ciri bentuk tubuh silinder, warna tubuh bagian dorsal merah keunguan, bagian ventral pucat atau coklat keputihan, warna ujung anterior coklat keputihan dan ujung posterior berwarna abu-abu coklat. panjang tubuh 110 – 135 cm, diameter tubuhnya berkisar antara 3,5 - 4,0 mm,.
Perionyx exavatus dideskripsikan menurut Suin (1997)  memiliki ciri-ciri bentuk tubuh silinder, warna tubuh bagian ungu kehitaman, bagian ventral ungu kemerahan, warna ujung anterior ungu kehitaman dan ujung posterior berwarna ungu kecoklatan. Panjang tubuh 140 – 200 mm diameter tubuhnya berkisar antara 5 - 6 mm. Cacing jenis Pheretima capensis dideskripsikan menurut Suin (1997) memiliki ciri-ciri panjang tubuhnya 108 mm–198 m, dengan diameter tubuh berkisar antara 3,3 mm–5,9 mm, warna tubuhnya terbagi menjadi dua yaitu bagian dorsal berwarna coklat tua dan bagian ventral berwarna coklat muda sampai keputih-putihan. Jumlah segmen 110–120 segmen klitelum seperti cincin dan warnanya sedikit lebih hitam dari warna bagian tubuhnya. Selanjutnya adalah cacing jenis Pontoscolex corethrurus, menurut Suin (1997) dijelaskan bahwa ini memiliki ciri-ciri panjang tubuhnya 55 mm–105 m, dengan diameter tubuh berkisar antara 3,5 mm–4,0 mm, warna tubuh bagian dorsal coklat kekuningan bagian ventral abu-abu keputihan, warna ujung anterior kekuningan dan ujung posterior coklat kekuningan. Jumlah segmen 190–209 segmen, klitelum terletak pada segmen ke-15/16 – 21/23, lubang kelamin jantan terdapat pada seta ke 20/21.
Hasil penelitian sebelumnya yaitu Kusmiati (2010) di Pada Perkebunan Jeruk Kawasan Agropolitan Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala, Kariansyah (2013) di hutan galam di kawasan Desa Tabing Rimbah Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala, serta Yani (2016) pada perkebunan kacang tanah di kawasan wisata air terjun Rampah Menjangan Loksado didapatkan 4 jenis cacing tanah yaitu Pontoscolex corethrurus, Pheretima capensis, dan Pheretima javanica, serta Megascolex sp. Berdasarkan ketiga penelitian tersebut sama-sama didapatkan bahwa jenis yang paling banyak ditemukan adalah Megascolex sp. Tidak ditemukannya Perionyx exavatus pada penelitian sebelumnya diduga karena perbedaan tempat penelitian dalam pengambilan sampel. Pada penelitian Kusmiati (2010), dan Kariansyah (2013) penelitian ini mendapatkan cacing jenis Megascolex sp diduga karena cacing tanah jenis ini mudah bertahan pada perubahan lingkungan.

3.2.2 Kerapatan Populasi Cacing dari Kelas Oligochaeta
Hasil penelitian yang dilakukan di kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala, didapatkan empat jenis cacing tanah dari Kelas Oligochaeta dengan nilai kerapatan yang berbeda-beda. Hasil perhitungan kerapatan (K) dari pengambilan sampel untuk jenis  Megascolex sp nilai kerapatannya adalah 93,06 ind/m3 ,cacing tanah jenis Perionyx axavatus nilai kerapatannya adalah  14,35 ind/m3, Nilai kerapatan cacing tanah jenis Pheretima capensis 36,11 ind/m3, dan nilai kerapatan cacing tanah jenis Pontoscolex corethrurus adalah 11,11 ind/m3.
Sedikit dan banyaknya populasi cacing tanah tentunya juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan abiotik. Budiarti & Palungkun (1993) mengatakan bahwa suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah adalah 150C – 250C. Suhu yang lebih tinggi dari 250C masih diangap baik, asalkan terdapat naungan yang cukup pada suatu kawasan dan kelembaban optimal. Pengukuran suhu yang terdapat pada kawasan hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala berkisar antara 30-32 °C.        Berdasarkan data yang diperoleh untuk suhu tanah dapat diketahui suhu tersebut kurang optimal bagi pertumbuhan cacing tanah.
                   Cacing tanah memerlukan kelembaban yang cukup tinggi. Suhu yang optimal dapat membantu perkembangbiakkan cacing tanah. Apabila suhu udara terlalu kering maka cacing tanah akan masuk kedalam tanah, berhenti mencari makan dan akhirnya mati. Kelembaban tanah pada kawasan hutan Desa Palingkau Kecamatan bakumpai Kabupaten Barito Kuala didapatkan hasil pengukuran berkisar antara 80%-98%. Kelembaban yang optimal untuk kehidupan cacing tanah adalah berkisar antara 60-90% (Permata, 2006). Berdasarkan hasil pengukuran diketahui bahwa kelembaban tanah cukup optimal bagi kehidupan cacing tanah.
Cacing tanah merupakan hewan yang sangat peka terhadap adanya cahaya. Cacing tanah merupakan hewan nocturnal. Menurut Permata (2006) cacing tanah tidak  memiliki mata namun diseluruh tubuhnya memiliki sel-sel fotosensitif yang peka terhadap cahaya terutama sinar ultraviolet. Berdasarkan pengukuran parameter pada kawasan hutan Desa Palingkau didapatkan kisaran intensitas cahaya yaitu 1,95 – 11,48 K.Lux. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa intensitas cahaya pada kawasan itu cukup tinggi. Hal ini tidak memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan cacing tanah karena dikawasan hutan ditumbuhi dengan pepohonan serta tumbuhan yang lebat. Masih terdapat banyak naungan dikawasan tersebut dan tidak menyebabkan kekeringan pada tanahnya sehingga cacing tanah dapat hidup dengan baik pada kawasan itu.
Keasaman tanah sangat berpengaruh terhadap populasi dan aktivitas cacing tanah. Pengukuran pH tanah dikawasan hutan Desa Palingkau didapatkan hasil yaitu dengan kisaran antara 6,2-7. Umumnya cacing tanah tumbuh baik pada pH sekitar 7,0. Kondisi tanah yang sedikit asam sampai netral menyebabkan bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja secara optimal dalam melakukan pembusukkan. (Morario, 2010). Berdasarkan hasil pengukuran apabila dikaitkan dengan pusaka dapat diketahui bahwa keasaman tanah pada kawasan hutan tersebut memiliki tingkat keasaman tanah yang cukup optimal bagi kehidupan cacing tanah sehingga dapat menjadi faktor yang mempengaruhi keberadaan cacing tanah. Cacing tanah sangat dipengaruhi oleh bahan organik yang terdapat di dalam tanah. Bahan organik tersebut antara lain dihasilkan oleh kotoran hewan dan pelapukan daun-daunan. Jenis dan jumlah makanan yang tersedia tidak saja mempengaruhi besarnya populasi cacing tanah, tetapi juga jenis yang ada, kecepatan tumbuh serta kesuburan dari cacing tanah. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa suhu dan pH tanah di kawasan Hutan cukup baik bagi pertumbuhan cacing tanah.
Bahan organik merupakan salah satu hal yang penting bagi kelangsungan hidup cacing tanah. Hampir semua makhluk hidup yang ditemukan didalam tanah tergantung kepada bahan organik sebegai sumber energi dan makanannya. Bahan organik berasal dari serasah atau hewan yang sudah mati. Hasil pengukuran terhadap unsur hara tanah dikawasan penelitian yang diperoleh dari Laboratorium Fisika, Kimia dan Biologi Tanah Fakultas Pertanian Banjarbaru didapatkan pengukuran unsur hara tanah untuk N berkisar 0,22-0,34, P berkisar antara 16,32-32,02, K berkisar antara 2,48-39,27, KTK berkisar antara 34,96-44,06, Mg berkisar antara 0,11-0,55 dan Ca berkisar antara 6,38-23,25. Pengukuran tekstur tanah diperoleh untuk pasir berkisar antara 2,66-23,08%, debu diperoleh kisaran antara 41,67-62,83%, dan  liat berkisar antara 32,25-35,11%.
Berdasarkan pustaka, unsur tanah yang optimal untuk N adalah 0,08, unsur P sebesar 2,28, unsur K sebesar 0,307, unsur KTK sebesar 17,50, Mg sebesar 0,200 dan Ca sebesar 0,307. Berdasarkan pengukuran tersebut dapat dilihat bahwa unsur Nitrogen total pada kawasan hutan lebih tinggi dibandingkan dengan sumber pustaka. Hal ini disebabkan oleh metabolit sekunder yang dihasilkan oleh serasah tumbuhan cukup sulit diuraikan secara sempurna oleh mikroba. Pada unsur Kalium diperoleh hasil juga tinggi   dibandingkan pustaka, hal ini disebabkan oleh tumbuhan dikawasan hutan Desa Palingkau lebih banyak menghasilkan Kalium.
Salah satu dari unsur hara tanah yang dianalisis adalah Kapasitas Tukar Kation (KTK). Menurut Henry (1991), Kapasitas Tukar kation merupakan kemampuan tanah untuk menyerap dan mempertukarkan kation didalam tanah. Berdasarkan hasil pengukuran KTK tanah diperoleh 34,96-44,06. Berdasarkan pengukuran tersebut, KTK tanah menunjukkan hasil yang cukup tinggi. Besarnya KTK tanah tergantung pada tekstur tanah, dan kandungan bahan organik. Semakin tinggi bahan organik tanah maka semakin tinggi pula unsur  KTK yang terkandung didalam tanah.Menurut Dharmono (2000), Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah juga menentukan tingkat kesuburan tanah, semakin tinggi nilai KTK tanah maka akan semakin tinggi pula tingkat kesuburan tanah.
 Selanjutnya adalah mengenai tekstur tanah. Berdasarkan hasil uji laboratorium, pada ketiga kawasan didapatkan tekstur pasir yang paling rendah. Untuk tekstur liat dan debu didaptkan hasil yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil pengukuran dan apabila dikaitkan dengan sumber pustaka maka dapat dikatakan bahwa pada kawasan hutan Desa Palingkau kondisi tanahnya optimal bagi kehidupan cacing tanah.

3.2.3 Validasi Handout
                Bahan ajar berbentuk handout yang dikembangkan dengan judul “Jenis Cacing Tanah di Kawasan Hutan Palingkau” adalah bahan ajar dari hasil penelitian tentang Kerapatan Cacing Tanah (Kelas Oligochaeta) di Kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala yang bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan pemahaman di luar jam pelajaran yaitu sebagai bahan pengayaan atau suplemen pada mata kuliah Zoologi Invertebrata, Handout yang dikembangkan dilakukan Validasi oleh ahli atau pakar. Bahan ajar Handout yang dikembangkan dalam penelitian dinilai berdasarkan pedoman penilaian dari BSNP yang meliputi instrumen penilaian tahap I dan II. Pada penelitian kali ini penilaian hanya dilakukan pada tahap I.  Menurut BSNP (2007) komponen validasi bahan ajar pada tahap I terdiri atas 3 komponen dengan masing-masing indikator penilaiannya yaitu:
1)         Aspek kelayakan isi dengan indikator kesesuaian materi dengan SK dan KD; keakuratan materi; pendukung materi pembelajaran; kemutakhiran materi.
2)         Aspek kelayakan penyajian dengan indikator penilaian teknik penyajian; pendukung penyajian; penyajian pembelajaran; kelengkapan penyajian.
3)         Aspek penilaian bahasa dengan indikator penilaian Lugas; Komunikatif; Dialogis dan interaktif; Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik; Keruntutan dan keterpaduan alur pikir; Penggunaan istilah, simbol, atau ikon.
Pengembangan handout meliputi beberapa aspek yang perlu diperhatikan yaitu kedalaman materi yang termasuk dalam penilaian kelayakan isi. Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan.
Bahan ajar handout Jenis cacing tanah di kawasan hutan Desa Palingkau yang dibuat berdasarkan dari hasil penelitian “Kerapatan Cacing Tanah (Kelas Oligochaeta) di Kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala telah dilakukan uji validitas terlebih dahulu sebelum digunakan menjadi materi pengayaan pembelajaran konsep Filum Annelida. Setelah diadakan revisi dan didapatkan skor validitas sebesar 85,97 % maka handout dinyatakan sangat valid atau sudah layak untuk dipergunakan.
 Validasi merupakan proses kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui apakah bahan ajar handout yang dikembangkan valid atau layak digunakan. Menurut (Sugiyono, 2013) penelitian pengembangan yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, perlu menguji keefektifan produk tersebut agar dapat berfungsi di masyarakat luas. Tujuan dari tahap pengembangan ini adalah untuk menghasilkan draft perangkat pembelajaran yang telah direvisi berdasarkan masukan para ahli dan data yang diperoleh dari uji coba (Sholihah et al, 2015).


PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai kerapatan cacing tanah di kawasan hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1)  Cacing tanah yang ditemukan terdiri dari 2 suku yaitu Suku Megascolecidae dan Glossoscolecidae. Untuk suku Megscolecidae adalah Perionyx exavatus, Megascolex sp dan Pheretima capensis. Sedangkan untuk suku Glossoscolecidae adalah Pontoscolex corethrurus.
2)  Nilai kerapatan yang didapatkan pada kerapatan tertinggi pada kawasan hutan Desa Palingkau kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala dimiliki oleh Megascolex sp dengan nilai kerapatan sebesar 74,44 ind/m2 . Sedangkan nilai kerapatan terendah pada kawasan Hutan Desa Palingkau Kecamatan Bakumpai Kabupetn Barito Kuala dimiliki oleh cacing jenis Pontoscolex corethrurus dengan nilai kerapatan 8,89 ind/m2.
3)   Bahan ajar handout yang dibuat berdasarkan hasil penelitian tentang kerapatan cacing tanah di Kawasan Hutan Desa Palingkau kecamatan Bakumpai Kabupaten Barito Kuala sebagai materi pengayaan subkonsep Filum Annelida mata kuliah zoologi invertebrata bersifat valid.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik edisi Revisi. Yogyakarta: Penerbit Rineka Cipta

Akbar, Instrumen Validasi Bahan Ajar, 2013. Jakarta

Alex, M. 2016. Budidaya Berbagai Macam Cacing. Pustaka Baru Press. Yogyakarta
Asasi, Ahmad Furqon. 2009. Analisis Kelayakan Buku Ajar Sains Untuk SMP Kelas VII Ditinjau Dari Aspek Keterlibatan Siswa. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Astrini, Linda. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Menulis Petunjuk Bagi Pembelajaran dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual pada Siswa SMP. Universitas Negeri Semarang, Semarang.
Budiarti, Asiani & Rony Palungkun. 1993. Cacing Tanah. Penebar Swadaya, Jakarta.
Dharmono. 2000. Dampak Penanaman Galam  Terhadap Struktur, Komposisi, Vegetasi Dan Unsur Mineral Pada Lahan Gambut (Studi Kasus Terhadap 4 Lahan Gambut Di Kalimantan Selatan). Thesis Pascasarjana. Institut Teknik Bandung. Tidak dipublikasikan.

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan menengah.
Dharmawan, Agus. 2006. Ekologi Hewan. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNM: Malang.

Dwiastuti, Sri, Sajidan, Suntoro & Setyono.2007. Pengaruh Kepadatan Ccaing Tanah Terhadap Emisi C02 mesocosm Pada Konversi lahan Hutan ke Pertanian.

Fachrul, Melati Ferianita. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Bumi Aksara, Jakarta.

Fauziah, Uji. 2015. Desain Penelitian Pengembangan Bahan Ajar IPA Terpadu TemaCahaya dan Warna untuk Pembelajaran IPA SMP. Bandung. Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2015.

Firmansyah.et al. 2014. Karakterisasi Populasi dan Potensi Cacing Tanah Untuk Pakan Ternak dari Tepi Sungai Kahayan dan Barito. BPTP Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Hanafiah, Kemas Ali. Anas, Iswandi. Napoleon, A. Ghoffar, Nuni. 2005. Biologi Tanah Ekologi dan Makrobiologi Tanah. Rajawali Press, Jakarta.
Henry, 1991. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bumi Aksara, Jakarta

Jasin, Maskoeri. 1984. Sistematik Hewan Invertebrata dan Vertebrata. Sinar Wijaya, Surabaya

Kariansyah, bagus Dwi. 2013. Pola Distribusi dan Kerapatan Cacing dari Kelas Oligochaeta pada Hutan Galam di Kawasan Desa Tabing Rimbah Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala. Skripsi Sarjana. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Tidak dipublikasikan.


Kusmiati, Evi. 2010. Jenis Dan Kerapatan Populasi Cacing Tanah (Kelas Oligochaeta) Pada Perkebunan Jeruk Di Kawasan Agropolitan Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala. Skripsi Sarjana. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Tidak dipublikasikan.

Muller 2005. Dasar Umum Ilmu Kehutanan. Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Bagian Timur.

Michael, P. 1994. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Lapangan dan  Laboratorium (Terjemahan Yanti R. Koestoer). Usaha Nasional, Jakarta
Morario. 2010. Komposisi dan Distribusi Ccaing Tanah di Kawasan Perkebunan Kelapa Sawit PT. MOEIS dan Perkebunan Rakyat Desa Simodong Kabupaten Batu Bara. Universitas Sumatera Utara.

Nazir, Moh. 2014. Metode Penelitian. Penerbit Ghalia Indonesia. Bogor

Nilawati Syami, Dahelmi, dan Jabang Nurdin. 2014. Jenis-jenis Cacing Tanah (Oligochaeta) yang Terdapat di Kawasan Cagar Alam Lembah Anai Sumatera Barat. Fakultas MIPA, Universitas Negeri Andalas.

Nilawati, Retno. 2014 Pengembangan Handout Pembelajaran Tematik untuk Siswa Sekolah Dasar Kelas III.Salatiga FKIP UKSW Salatiga

Nilawati, Retno. 2014 Pengembangan Handout Pembelajaran Tematik untuk Siswa Sekolah Dasar Kelas III.Salatiga FKIP UKSW Salatiga.

Nurhasanah, Siti. 2012. Pengembangan Bahan Ajar Membaca dan Menulis Teks Percakapan untuk Siswa Kelas V SD. Universitas Negeri Malang, Malang.

Odum, p. Eugene. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Edisi ketiga (penerjemah Thahyono Samingan). Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Permata, Dian. 2006. Reproduksi cacing tanah (eisenia foetida) dengan Memanfaatkan daun dan pelepah kimpul (xanthosoma sagittifolium) pada media Kotoran sapi perah. Program Studi Teknologi Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian. Bogor.
                      
Rahmawaty.2007. Hutan, fungsi dan perannanya bagi masyarakat. Fakultas Pertanian Program ilmu kehutanan. Universitas Sumatera Utara.
Resosoedarmo, Kartawinata, Kuswata dan Soegiarta Apriliani.1992. Penganta
            Ekologi. Penerbit PT Remaja Rosdakarya.  Bandung

Rusyana, Adun. 2011. Zoologi Invertebrata. Alfabeta. Bandung

Sapto, Ciptanto dan Paramita, Ulfah. 2011. Mendulang emas hitam melalui budi
daya cacing tanah. Lily Publisher.   
Yogyakarta.
Saputro, Edi et al. 2014. Pengembangan Bahan Ajar Menulis Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal. Universitas Lampung, Lampung.
Sholihah Wardatus,. Susanto & T. Sugiarto. 2015. Pengembangan Bahan Ajar (Buku Siswa) Matematika Untuk Siswa Tunarungu Berdasarkan Standar Isi Dan Karakteristik Siswa Tunarungu Pada Sub Pokok Bahasan Menentukan Hubungan Dua Garis, Besar Sudut, Dan Jenis Sudut Kelas Vii Smplb/B Taman Pendidikan Dan Asuhan (Tpa) Jember Tahun Ajaran 2012/2013. Jember. Prodi Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan MIPA FKIP UNEJ

Soetjipta.1993. Dasar-dasar Ekologi hewan. Fakultas Biologi. Univerisitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Subowo.2014. Pemberdayaan Organisme Tanah untuk Pertanian Ramah Lingkungan. Jakarta.
     
Suin, Nurdin Muhammad. 1997. Ekologi Hewan Tanah. PT Bumi Aksara, Jakarta

Suratsih. 2010. Pengembangan Modul Pembelajaran Biologi Berbasis Potensi Lokal Dalam Kerangka Implementasi KTSP SMA di Yogyakarta. Yogyakarta. FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

Suswina, M.  2011. Hasil Validitas Pengembangan Bahan Ajar Bergambar Disertai Peta Konsep Untuk Pembelajaran Biologi SMA Semester 1 Kelas XI. Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat. SUMBAR.

Sutrisno Lis, Sulaeman Rudianda, Sribudiani Evi. 2006. Utilization of Wood Waste Mahang (Macaranga sp.) From Sawmill Industry For Making Wood Vinegar. Riau Departement of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Riau.

Verma, P.S. 2002. A Manual of Practical Zoology Invertebrates. S. CHAND & Company LTD. New Delhi.
Wiyono, Ketang & Danawan, Agus. 2009. Research & Development dalam Pendidikan IPA.Universitas Pendidikan Indonesia,Indonesia.
Yani.2016. Pengembangan Handout Materi Penunjang Konsep Populasi Mata Kuliah Ekologi Hewan Berbasi Penelitian Kerapatan Populasi Cacing Tanah Pada Perkebunan Kacang Tanah di Kawsaan Wisata Air Terjun Rampah menjangan Loksado. Skripsi Sarjana. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Tidak dipublikasikan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar